Skip navigation


Tadi siang gw nonton berita tentang terbongkarnya sebuah aib yaitu tentang Fasilitas-fasilitas mewah yang tersedia di sebuah penjara “Rutan Pondok Bambu”. yap! Fasilitas mewah di PENJARA!!!

Kenapa dikatakan mewah? karena di dalam penjara yang tujuannya untuk membuat seseorang insyaf dan kapok malah terdapat AC, Tv flat, Kasur spring bed, dan Tempat Karaoke.

kalo kayak gitu sih bukannya bikin insyaf tapi malah bikin tuh penjahat and koruptor betah.

Sebenernya gak cuma di Rutan Pondok Bambu aja yang kayak gitu. di Bandung sini pun Rutan Sukamiskin yang terkenal denagn rutan tempat koruptor ditangkap, fasilitasnya juga nggak kalah mewah. Malah hal ini sudah menjadi rahasia Umum karena udah berlangsung lama dan disengaja oleh pihak sipir.

Oh iya, Pada bulan desember yang lalu kebetulan temen gw “Alfi Yusrina Ramadhani”pernah berkunjung ke Rutan Pondok dan dia bertemu dengan hal” yang unik dan menarik.

dan ini dia investigasi temen gw di Rutan Pondok Bambu.

What I’ve got after back from visiting a friend of my friend at Rumah Tahanan Negara Pondok Bambu.

First, I wanna say to God: Thanks God, Im still in Your way.
Well, today was my first time visit a jail. It was super, cant say by word, and so far away from my thoughts.

Penjara. Rumah Tahanan Negara Pondok Bambu.
Sebelumnya saya tidak memiliki banyak imajinasi mengenai kondisi di dalam penjara, memikirkannya pun jarang. Ketika ada tawaran dari ci Joy untuk menjenguk salah satu temannya, tanpa berpikir panjang saya langsung menyetujuinya.

Kronologis pengalaman saya mengunjungi Rutan Pondok Bambu.
Saya pergi bersama 5 orang teman. Hal pertama yang wajib dilakukan apabila ingin mengunjungi tahanan adalah mengambil nomor antrian. Sekitar pukul 12.00 kami tiba di Rutan Pondok Bambu, kami sudah mendapat antrian masuk ke-93. Bayangkan! Sipir akan memanggil lima nomor setiap kalinya. Alhasil, tertahanlah kami di depan rutan kurang lebih satu setengah jam dengan cuaca matahari yang panas terik.

Sebelum memasuki gerbang hijau itu, ada pemandangan kenyataan negeri ini yang membuat saya tersenyum setengah hati. Saya melihat sebuah keluarga dengan nomor antrian 185—dengan amat mudah—menyelipkan uang Rp30.000,00 untuk masuk rutan tanpa harus mengantri kepada sipir penjaga gerbang. Jelas-jelas, di depan bangunan rutan itu terpasang papan BESAR mengenai pasal dilarang menerima pungli (pungutan liar). Sebagai info tambahan, ternyata apabila memberikan Rp50.000,00 kita dapat langsung masuk tanpa harus mengambil nomor antrian. See,How very simple this life? Just like enter Dufan.

Ketika nomor antrian kami dipanggil, kami diberikan resi untuk masuk ke dalam rutan dan gadget-gadget yang kami bawa harap dititipkan. Kami diarahkan untuk mengikuti garis yang mengantar kami pada pos pemeriksaan pengunjung. Ternyata bayangan saya mengenai pemeriksaan yang ketat itu salah besar. Pemeriksaan rutan Pondok Bambu sangat tidak ketat, pengunjung tidak diraba-raba, barang bawaan pengunjung tidak di geledah seperti bandara, tidak ada dektektor bom seperti di mall-mall. Mungkin, untuk para teroris yang membaca tulisan saya dapat menjadi referensi menarik. Atau, kalau ada pengedar narkoba yang sedang online, silakan berjualan dengan bebas barang dagangan, Anda.

“Selamat datang di Rutan Pondok Bambu,” begitulah yang terbesit di benak saya begitu memasuki gedung bagian dalam. Kalau dari depan terlihat gerbang tinggi berwarna hijau, dari dalam akan terlihat seperti sekolah negeri yang muridnya menggunakan jaket hijau dan oranye. Suasananya sangat mirip sekolah yang sedang membagikan raport. Ramai sekali! Jangan harap menemukan ruang pemanggil tahanan seperti di film “Prison Break”! Bayangan saya tentang penjara yang tertata tertib, dan teratur seolah-olah runtuh ketika langkah pertama menginjak halaman rutan Pondok Bambu.

Saya tidak melihat sipir sedikit pun setelah memasuki arena berkunjung. Di manakah mereka bersembunyi? Untuk memanggil tahanan yang hendak kita kunjungi, kita perlu merogoh kocek—sayangnya saya kurang tahu berapa besarnya—untuk membayar calo, yang juga tahanan, itulah salah satu cara mereka untuk mendapatkan uang. Di sana tidak ada sipir yang bertugas memanggil para tahanan yang mendapat tamu.

Calo itu memberi kami sebuah karpet buluk hijau untuk duduk sambil menunggu tahanan yang ingin kami kunjungi. Sambil menunggu, kami ‘diwajibkan’ membeli minuman. Kami membeli The Botol Sosro dengan harga Rp6.000,00 per botol. Menarik bukan?

Tak berapa lama, datanglah tahanan yang saya maksud. Saya tidak mau menyebutkan namanya. Wanita itu sudah divonis penjara seumur hidup karena kasus penjualan narkoba. Ia sudah setahun tinggal di rutan itu. Ia tidak punya sanak saudara yang mengunjunginya, dua anaknya entah ada dimana sekarang.

Saya tidak banyak bicara atau pun bertanya, salah satu diantara kami memberikan banyak pertanyaan padanya. Banyak informasi mengenai kenyataan kehidupan penjara yang sudah saya duga-duga.
Pengetahuan baru yang saya dapatkan:
1. Kalian pikir masuk bui gratis? Bayar! Tahanan itu harus membayar Rp100.000,00 untuk memulai kehidupan barunya.
2. Kalian pikir tinggal di penjara gratis? Tidak, para tahanan harus membayar Rp50.000,00 seperti anak kos setiap bulannya.
3. Kalau kalian adalah tahanan yang tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai, kalian harus bekerja di dalam penjara. Pekerjaan yang ditawarkan ada: mencuci baju, membersihkan rutan, menjual rokok, menjual narkoba, menjual diri, menjual barang-barang yang kalian miliki, dan lain-lain.
4. Satu sel berisi sekitar 23-35 orang. Kalau WC di dalam sel mampet, para tahanan harus patungan uang untuk memperbaikinya. Kalau TV rusak, mereka harus patungan untuk membeli yang baru.
5. Jangan harap para tahanan akan diberi makan gratis. Jika tahanan hanya mengandalkan makanan dari pemerintah, mereka hanya mendapatkan nasi curah yang masih ada sisa gabah atau ada belatung, yang benar-benar tak layak dimakan. Untuk makan enak, mereka harus pergi membeli di kantin. Harga dua buah tempe Rp5.000,00, kalian bisa menghitung harga menu yang lain.
6. Kalian tidak hanya akan menemukan orang-orang bermuka gahar atau sangar, kalian malah mendapati artis, wanita berjilbab, dan wanita dengan dandanan super-duper menor dengan gincu murahan.
7. dan masih banyak lagi.

Penjara bukan suatu tempat pelajaran bagi tindak kriminal untuk bertobat. Penjara adalah sebuah sarana atau komunitas tempat berkumpulnya para penjahat. Bila kalian adalah seorang yang tidak mudah bergaul, sebaiknya hindari diri dari tindakan kriminal. Satu hal terpenting yang dibutuhkan bila membina kehidupan dalam penjara adalah sifat mudah bergaul.

Saya juga melihat Sheilla Marcia dan Jennifer Dunn yang sedang dikunjungi kerabatnya. Tak heran mereka begitu betah tinggal di Rutan Pondok Bambu. Saya melihat mereka begitu membaur dengan yang para tahanan lain, itu adalah kunci sukses pergaulan di rutan itu. Sheilla Marcia dengan kehamilannya yang tujuh bulan masih dapat berpenampilan cantik, ya iyalah di penjara aja masih sempet ekstensi bulu mata. Saya menemukan jawaban mengapa mimik Jennifer Dunn terlihat senang sewaktu kameramen “Insert“ mewawancarainya saat ia kedua kalinya masuk penjara.

Setelah pukul 16.00 WIB, bel berdentang tanda jam kunjung usai. Kami semua pulang membawa makna.

Pelajaran pertama: jangan terlalu banyak menonton Prison Break, sangat menjatuhkan martabat penjara di Jakarta.
Pelajaran kedua : selalu bawa alas duduk seperti mau ke Monas.

Multiply:http://gypsyholic.multiply.com/journal/item/308

Notes Alfi : http://www.facebook.com/notes/alfi-yusrina-ramadhani/what-ive-got-after-back-from-visiting-a-friend-of-my-friend-at-rumah-tahanan-neg/219746517837

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: